Selasa, 29 September 2009

PMI Cianjur Distribusikan Bantuan untuk Korban bencana Gempa Bumi di Kecamatan Cikadu dan Cijati Kabupaten Cianjur

Jumat, 25 September 2009




  • :jumat 25 september 2009 relawan PMI melakukan aktifitas sebagai bentuk peduli terhadap para korban gempa jawa barat.
  1. Asessmen lanjutan di Kp. Bogem Desa Sirnagalih,Kampung Bojongkalapa dan kertasari desa Kertasari Kecamatan Sindangbarang dari hasil assesmen diperoleh data korban Gempa yang masih membutuhkan bantuan sebagai berikut:
  • 70 KK di Kp. Kertasari desa Kertasari Kec. Sindangbarang
  • 30 KK di Kp. Bojongkalapa desa Kertasari Kec. Sidangbarang
  • 50 KK di Kp. Bogem Desa Sirnagalih Kecamatan Sindangbarang
  1. Mengambil bantuan pakaian layak pakai di Kantor Pusat PMI 24 Koli
  2. Membeli bambu untuk Pembuatan Rumah Bambu di Kec. Sukanagara 150 batang.
  3. Paking Paket untuk di distribusikan besok sebanyak 150 Paket yang per paket terdiri dari :
  • 3 ltr Beras
  • 10 Bks Mie instan
  • 1 lbr Selimut
  • 2 bks makanan Bayi
  • 1 pak Biskuat
  • 1 buah sarung
  • 1 buah mukena
  • 1 buah sajadah
  • 10 saset Kecap
  • 1 kln Botan
  • 1 bh handuk

  • Besok :

  1. Distribusi barang bantuan kepada Korban gempabumi d Desa Sirnagalih dan Kertajadi Kecamatan Sindang Barang untuk 150 KK .
  2. Assesment Lanjutan di Cibinong, Sukanagara dan Sindangbarang
  3. Melanjutkan Pembangunan Rumah bambu.

  1. Berapa target pelayanan
  • 150 KK menerima bantuan dari PMI
  • Rumah Bambu ke 4 dan 5 mulai dibangun

  1. Jumlah relawan yang terlibat
  • Posko PMI cabang 10 orang
  • Posko Sindangbarang 15 orang
  • Posko Sukanagara 8 orang

  1. Lokasi kegiatan
  • Markas PMI cabang cianjur
  • Kecamatan Sindang Barang
  • Kecamatan Sukanagara
  • Kecamatan Cibinong
  1. NGO/Stake Horder/Lsm yang ada :
  • BPBD kabupaten Cianjur

  1. Info tambahan
  • Mengingat masih banyak permintaan dari Korban gempa bumi yang rumahnya hancur untuk dibuatkan Rumah Bambu, mohon kiranya Pengurus PMI Daerah dapat menambah Rumah bamboo di Kabupaten Cianjur , sekarang baru terbentuk 5 Rumah ( 2 Rmh sudah dihuni, 2 rmh sedang dikerjakan dan 1 rumah dalam proses penentuan tempat.


Rabu, 09 September 2009

Pengungsi Kekurangan Tenda

Para korban gempa di Kecamatan Sindangbarang dan Kecamatan Pagelaran mengalami kekurangan tenda untuk tempat tinggal sementara mereka di tempat pengungsian. Sementara Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kabupaten Cianjur mengaku kewalahan menerima permohonan kebutuhan tenda tersebut.
Kondisi tersebut dibenarkan oleh Ketua SATGANA PMI Cabang Kabupaten Cianjur H. Rudi Syachdiar H, SH. menurut dia permohonan kebutuhan tenda dari para pengungsi di Kecamatan Pagelaran dan Sindangbarang terus berdatangan. Padahal pihaknya sudah mendirikan tenda sebanyak 40 tenda di Kecamatan Sindangbarang dan 20 tenda di Kecamatan Pagelaran.
Namun warga yang membutuhkan tenda sepertinya jauh lebih banyak sehingga tenda-tenda yang sudah dibangun masih belum mencukupi, sebab tidak sedikit dari pengungsi yang masih tinggal di tenda yang hanya tertutup bagian atasnya. Sementara tenda PMI bagian sampingnya tertutup.
Saat ini hampir 70% pengungsi masih menggunakan tenda-tenda yang kurang layak, sedangkan tenda PMI jumlahnya terbatas.
Selain itu PMI juga masih memikirkan cara memenuhi kebutuhan MCK, termasuk siapa yang memiliki kewenangan menanganinya. Demikian pula dengan penanganan sampah eks bungkus makanan serta jenis sampah lainnya di lokasi, hingga saat ini belum tertangani secara optimal.
Berdasarkan catatan jumlah pengungsi paling banyak di Kabupaten Cianjur berada di wilayah Sindangbarang, alasannya lokasinya berada di dekat pantai sehingga yang rusak sangat banyak, misalnya di Desa Girimukti Kecamatan Sindangbarang terdapat tiga lokasi pengungsian.

Pesan dari Relawan yang Bertugas di Gempa Jawa Barat


Yth. Teman - teman sekalian

Terima kasih atas doa dan dukungan semuanya bagi kami yang berada di Posko dan Lokasi Bencana Gempa Bumi di Jawa Barat. Kami sampaikan bahwa sampai hari ke 7, kami telah melaksanakan Pelayanan Tanggap Darurat Bencana, walau memang mengalami kesulitan mengingat wilayah yang terkena bencana di masing-masing Kabupaten Berada di Pegunungan, Pantai cukup jauh dari pusat Ibu Kota Kabupaten.

Saat ini di hari ke 7 kami menuntaskan Pelayanan Penampungan menggunakan Family Tent, distribusi kebutuhan dasar, pelayanan Kesehatan, PSP, RFL dan kami sedang membangun rumah bambu untuk dijadikan hunian para korban gempa, mengingat keberadaan mereka (pengungsi) tidak akan mungkin bertahan lama di tenda (sekarang musim panas dan sebentar lagi musim hujan).

Relawan yang terlibat dari seluruh Cabang yang terkena Gempa sebanyak 400 orang (kami tidak memobilisasi relawan dari luar Jabar), tapi kami juga mendapat dukungan dari PMI DKI Jakarta untuk bidang Dapur Umum dan DIY untuk Rumah Bambu serta RS PMI untuk MAT.

Direncanakan pada tanggal 17 September 2009 bersamaan dengan HUT PMI akan dilaksanakan penyerahan rumah bambu bagi korban di wilayah Cianjur bersama Ketua Umum PMI dan Artis Peduli.

Demikian teman n sahabatku... .

Wasalam '

Salam Kemanusiaan, Siamo...
(kang Abidin)

Minggu, 29 Maret 2009

250 Warga Dapat Pengobatan Gratis


Pada Hari Kamis tanggal 26 Maret 2009 yang lalu Relawan PMI Cabang Kabupaten Cianjur menggelar bhakti sosial dengan menyelenggarakan pengobatan gratis di Desa Girimukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, sekitar 250 warga berbondong-bondong mendatangi Kp. Pojokbolang Desa Girimukti untuk mendapatkan pengobatan gratis.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Relawan PMI Cabang Cianjur terdiri dari TSR, SATGANA dan SIBAT.

Dalam kegiatan tersebut tim menurunkan sebanyak 1 orang dokter umum, 4 Perawat, 15 orang SATGANA, 10 orang SIBAT dan 1 unit Ambulance.

Ratusan warga Desa Girimukti terlihat sangat antusias , dari target yang diperkirakan sebanyak 400 orang, hanya 250 orang yang mendaftar untuk memeriksakan kesehatannya.

Ketua Relawan PMI Cabang Cianjur H. Rudi Syachdiar H, SH mengatakan, acara pengobatan gratis ini tersebut merupakan kepedulian atas kondisi kesehatan warga saat ini Apalagi di daerah cukup jauh dari Kecamatan Campaka.

Kami merasa tergugah terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di tanah air ini, dengan masih banyaknya warga yang kurang beruntung" ujarnya.
Kegiatan bhakti sosial itu diberikan kepada mereka yang secara ekonominya kurang mampu.

Senin, 23 Maret 2009

Posko Kesehatan dan Mobilisasi Ambulans PMI Cabang Kabupaten Cianjur untuk Pemilu 2009


Menghadapi Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2009, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur telah menyiapkan para Relawan PMI untuk mendirikan posko kesehatan dan memobilisasi ambulance untuk memberikan pertolongan pertama dan bantuan kesehatan lainnya. Posko kesehatan dan ambulance PMI akan disiapkan bagi masyarakat yang terlibat dalam kegiatan kampanye pemilu yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.

Agar pelayanan ini berjalan efektif, maka posko kesehatan dan ambulance PMI akan dilakukan sedekat mungkin dengan peserta kampanye pemilu, terutama yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

“Posko kesehatan dan ambulance akan kami lakukan di lokasi-lokasi kampanye pemilu dan terutama yang diperkirakan akan berkumpul massa dalam jumlah besar,” kata H. Rudi Syachdiar anggota Pengurus PMI Cabang Kabupaten Cianjur. H. Rudi Syachdiar menambahkan, posko kesehatan dan ambulans ini dikerahkan sebagai sarana pertolongan pertama dan transportasi bagi mereka yang membutuhkan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.

Posko kesehatan dan mobilisasi ambulance PMI akan dilakukan selama kampanye Pemilu 2009 yaitu tanggal 16 Maret hingga 5 April 2009. Setiap posko kesehatan akan didukung dengan 1 unit ambulansce peralatan pertolongan pertama, tandu, dan 2 personil relawan yang bertugas untuk memberikan pertolongan pertama. Untuk mengadakan pelayanan kesehatan ini PMI berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD), Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), dan sejumlah Instansi terkait lainnya seperti Kepolisian, Pemadam Kebakaran, Puskesmas, dan Rumah Sakit.

Selain ditempatkan di lokasi-lokasi rawan ramai, PMI juga menyiagakan tim pertolongan pertama beserta ambulancenya di Markas Cabang PMI dan Balai Pengobatan PMI. Untuk kegiatan ini PMI Kabupaten Cianjur menyiagakan 3 armada ambulance, termasuk armada yang akan dimobilisasi di lokasi-lokasi kampanye pemilu.

Untuk memudahkan masyarakat yang membutuhkan bantuan selama kampanye Pemilu 2009, PMI Cabang Kabupaten Cianjur membuka Call Center Posko PMI untuk Pemilu 2009 dengan nomor (0263) 261565 & (0266) 261252 selama 24 jam.

Hingga saat ini PMI Cabang Kabupaten Cianjur memiliki sekitar 500 relawan yang tersebar di tiap Kecamatan dengan kemampuan memberikan pertolongan pertama dan basic life support.

Untuk informasi selanjutnya, dapat menghubungi: Hery Hidayat, Staf markas PMI Cabang Cianjur, Tlp. 0263-261565, Hp. 0817437071

Minggu, 22 Maret 2009

PMI Cabang Cianjur Bantu Pelayanan Kesehatan dan khitanan Massal


Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Kabupaten Cianjur, Provinisi Jawa Barat, pada Minggu, 15 Februari 2009 mengadakan kegiatan khitanan massal dan pelayanan kesehatan gratis kepada warga masyarakat di desa Cimenteng dan Karyamukti Kecamatan Karyamukti serta desa Sukamukti, Kecamatan Cibeber. Pemilihan ketiga desa tersebut sebagai tempat bakti sosial oleh PMI, menurut koodinator kegiatan Herry Hidayat adalah karena secara geografis desa-desa tersebut terpencil sehingga jauh dari fasilitas pelayanan publik. Camat Campaka R.Y. Rohyanda pada sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih dan mengharapkan kegiatan ini dilaksanakan pula di desa-desa yang lain.”Memang secara geografis, desa-desa di Kabupaten Cianjur banyak yang terpencil dan sukar dijangkau, terutama desa-desa yang berbatasan dengan kabupaten lain”, ujar Rohyanda. Mengenai pelaksanaan kegiatan ini Herry Hidayat mengungkapkan; “Dana dan tenaga yang dikerahkan untuk kegiatan ini berasal dari anggota Tenaga Sukarela (TSR) PMI Kabupaten Cianjur”, ujar Herry yang sehari-hari bekerja sebagai staf Markas PMI Cabang Kabupaten Cianjur..

Relawan PMI yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 56 orang yang didalamnya terdapat 27 perawat, 2 orang bidan dan 1 orang dokter dari RSUD. Cianjur, serta 1 unit ambulans. Pada pelayanan kesehatan gratis, 107 warga masyarakat memanfaatkan pelayananan ini. Sedangkan pada kegiatan khitanan massal, 32 anak berhasil dikhitan. “Selain khitan dan pengobatannya gratis, anak-anak juga mendapatkan paket cecepan atau oleh-oleh berupa sarung, baju taqwa, mainan, makanan dan uang”, ujar Herry Hidayat.

Kegiatan bakti sosial Relawan PMI ini akan berlanjut di desa Susukan dan Girimukti, Kecamatan Campaka pada 22 Februari 2009 dan di wilayah kecamatan Pagelaran pada 7-8 Maret 2009.

ORGANISASI PALANG MERAH INDONESIA (PMI)

SEJARAH PMI
Berdirinya Palang Merah di Indonesia sebenarnya sudah dimulai sejak masa sebelum Perang Dunia Ke-II. Saat itu, tepatnya pada tanggal 21 Oktober 1873 Pemerintah Kolonial Belanda mendirikan Palang Merah di Indonesia dengan nama Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), yang kemudian dibubarkan pada saat pendudukan Jepang.

Perjuangan untuk mendirikan Palang Merah Indonesia sendiri diawali sekitar tahun 1932. Kegiatan tersebut dipelopori oleh Dr. RCL Senduk dan Dr Bahder Djohan. Rencana tersebut mendapat dukungan luas terutama dari kalangan terpelajar Indonesia. Mereka berusaha keras membawa rancangan tersebut ke dalam sidang Konferensi Nerkai pada tahun 1940 walaupun akhirnya ditolak mentah-mentah. Terpaksa rancangan itu disimpan untuk menunggu kesempatan yang tepat. Seperti tak kenal menyerah, saat pendudukan Jepang, mereka kembali mencoba untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional, namun sekali lagi upaya itu mendapat halangan dari Pemerintah Tentara Jepang sehingga untuk kedua kalinya rancangan itu harus kembali disimpan.

Tujuh belas hari setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, yaitu pada tanggal 3 September 1945, Presiden Soekarno mengeluarkan perintah untuk membentuk suatu badan Palang Merah Nasional. Atas perintah Presiden, maka Dr. Buntaran yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia Kabinet I, pada tanggal 5 September 1945 membentuk Panitia 5 yang terdiri dari: dr R. Mochtar (Ketua), dr. Bahder Djohan (Penulis), dan dr Djuhana; dr Marzuki; dr. Sitanala (anggota).

Akhirnya Perhimpunan Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945 dan merintis kegiatannya melalui bantuan korban perang revolusi kemerdekaan Republik Indonesia dan pengembalian tawanan perang sekutu maupun Jepang. Oleh karena kinerja tersebut, PMI mendapat pengakuan secara Internasional pada tahun 1950 dengan menjadi anggota Palang Merah Internasional dan disahkan keberadaannya secara nasional melalui Keppres No.25 tahun 1959 dan kemudian diperkuat dengan Keppres No.246 tahun 1963.

Kini jaringan kerja PMI tersebar di 30 Daerah Propinsi / Tk.I dan 323 cabang di daerah Tk.II serta dukungan operasional 165 unit Transfusi Darah di seluruh Indonesia.

PERAN DAN TUGAS PMI
Peran PMI adalah membantu pemerintah di bidang sosial kemanusiaan, terutama tugas kepalangmerahan sebagaimana dipersyaratkan dalam ketentuan Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1958 melalui UU No 59.

Tugas Pokok PMI :
+ Kesiapsiagaan bantuan dan penanggulangan bencana
+ Pelatihan pertolongan pertama untuk sukarelawan
+ Pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
+ Pelayanan transfusi darah ( sesuai dengan Peraturan Pemerintah no 18 tahun 1980)
Dalam melaksanakan tugasnya PMI berlandaskan pada 7 (tujuh) prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yaitu Kemanusiaan, Kesukarelaan, Kenetralan, Kesamaan, Kemandirian, Kesatuan dan Kesemestaan.

SEKILAS KINERJA PMI DARI MASA KE MASA

Dasawarsa I 1945 -1954
Pada masa perang kemerdekaan RI, peranan PMI yang menonjol adalah di bidang Pertolongan pertama, Pengungsian, Dapur Umum, pencarian dan pengurusan repatriasi, bekerjasama dengan ICRC dan Palang Merah Belanda untuk Romusha, Heiho , Tionghoa; anak-anak Indo Belanda dan 35.000 tawanan sipil Belanda dan para Hoakian yang kembali ke RRC. Sementara itu diadakan pula pendidikan untuk para juru rawat yang akan dikirim ke pos-pos P3K di daerah pertempuran.
Saat itu sudah ada 40 cabang PMI di seluruh Indonesia dan setiap cabang memiliki dua buah Pos P3K sebagai Tim Mobil Collone.
Rumah Sakit Umum Palang Merah di Bogor yang semula di bawah pengelolaan Nerkai, pada tahun 1948 disumbangkan kepada PMI Cabang Bogor dengan nama Rumah Sakit Kedunghalang dan sejak tahun 1951 dikelola menjadi Rumah Sakit Umum PMI hingga sekarang.
PMI juga mulai menyelenggarakan kegiatan pelayanan sumbangan darah yang masih terbatas di Jakarta dan beberapa kota besar seperti Semarang, Medan, Surabaya dan Makasar dengan nama Dinas Dermawan Darah.

Dalam peristiwa pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan), PMI bekerjasama dengan ICRC melaksanakan pelayanan kesehatan yang dipimpin oleh Dr. Bahder Djohan dan BPH Bintara berupa Rumah Sakit terapung di Ambon. Juga diadakan penyampaian berita keluarga yang hilang/ terpisah serta mengunjungi tawanan.

PMI mulai mengembangkan kegiatn kepemudaan dengan 7.638 anggota remaja di 29 Cabang PMI. Bekerjasama dengan Yayasan Kesejahteraan Guru, murid dan anak-anak sepakat membentuk unit PMR di sekolah-sekolah, penerbitan majalah PMR, korespodensi, pertukaran album, lomba, pameran lukisan, serta penyelenggaraan sanatoria (perawatan paru-paru untuk anak-anak).

DASAWARSA II 1955 - 1964
Akibat Pemberontakan PRRI di Sumatera Barat dan Permesta di Sulawesi Utara, Markas Besar PMI mengirimkan kapal-kapal PMI ke daerah tersebut untuk menjemput orang-orang asing di sana dan juga mengirimkan 4 tim medis ke Sumatera serta 6 tim ke Sulawesi Utara.
Setelah Presiden Soekarno mencetuskan Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk membebaskan Irian Barat pada tanggal 19 Desember 1961, Pengurus Besar PMI memanggil Kesatuan Sukarela seluruh Cabang untuk siap siaga. Kemudian terbentuklah Kesatuan Nasional yang terdiri dari 11 cabang yang telah diseleksi. Sukarelawan Palang Merah yang ditugaskan sebagai perawat berjumlah 259 orang dan 770 orang sebagai cadangan.

Pada peristiwa Aru 15 Januari 1952, yaitu tenggelamnya Kapal Perang RI Macan Tutul, sebanyak 55 orang awak kapal perang tersebut menjadi tawanan Belanda sehingga atas permintaan Menteri/KSAL, PMI menghubungi ICRC untuk menangani tawanan tersebut. Berkat usaha Sekjen PBB, pihak Belanda menyetujui penyerahan awak kapal di Singapura.
Pada tahun 1963 ketika Gunung Agung di Bali meletus , PMI bersama Dinkes Angkatan Darat RI membantu penanggulangan para korban bencana tersebut.

Ketika Tim Kesatuan Nasional PMI ke Kalimantan Barat dalam rangka Dwikora (Dwi Komando Rakyat), telah dikirimkan Tim Kesehatan Nasional untuk membantu Operasi TUMPAS di Sulawesi Selatan.

DASA WARSA III 1965-1975
Penerbitan Surat Keputusan mengenai Peraturan menteri Kesehatan RI No.23 dan No.024 mengenai pengakuan Pemerintah RI untuk pertamakali terhadap keberadaan Usaha Transfusi Darah (UTD) PMI.
Dalam peringatan HUT PMI ke-25 , 17 September 1970 , Pengurus Besar PMI mengeluarkan suatu medali khusus dan penghargaan kepada perintis-perintis PMI, seperti: Drs. Moh. Hatta dan Prof. Dr. bahder Johan dan Pengurus PMI Daerah/Cabang seluruh Indonesia.
Setahun kemudian ,1971 diresmikan berdirinya suatu DAJR (Dinas Ambulance Jalan Raya) Jakarta - Bandung sebanyak 7 pos yang dipusatkan di RSU-PMI Bogor. Ambilans yang digunakan adalah ambulance Falcon yang dilengkapi personil, alat-alat pertolongan pertama, dan telepon radio.

DASAWARSA IV 1975 -1984
Kerjasama PMI-ICRC
PMI mulai berperan di Timor Timur bulan Agustus 1975 sejak mengalirnya pengungsi Timor Timur ke perbatasan Timor Barat di Atambua. Operasi kemanusiaan di Dili dimulai bulan Desember 1975 atas permintaan PSTT (Pemerintah Sementara Timor Timur). Kemudian kelak pada bulan Oktober tahun 1979 PMI bekerja sama dengan ICRC mulai membuka pos bantuan relief di 7 Kecamatan terpencil di Timor Timur.
Atas permintaan Pemerintah RI, PMI didukung UNHCR membentu pengungsi Vietnam di Pulau Galang dalam bidang kesehatan dan kesejahtraan social, antara lain dengan mendirikan RS Pulau Galang. PMI juga mengadakan Tracing and Mail Service bekerjasama dengan ICRC.

Bencana Alam
Ketika gempa bumi melanda Bali Juli 1976 yang melanda 3 dari 5 kabupaten
PMI mengerahkan tenaga sukarela, membuka Dapur Umum dan membantu perbaikan 500 buah rumah. Bekerjasama dengan tim medis dari Angkatan Darat, memberikan pelayanan kesehatan makanan dan obat-obatan.
Di tahun yang sama gempa bumi melanda Kecamayan Kurima dan Okbibab di Kabupaten Jayawijaya dengan kekuatan 6,8 Skala Richter.
PMI juga turun langsung membantu korban bencana Galunggung tahun 1982 selama beberapa bulan

Transfusi Darah
Tahun 1978 Pengurus Pusat memberikan penghargaan Pin Emas untuk pertamakalinya kepada donor darah sukarela 75 kali.
Ketentuan tentang tugas dan peran PMI dalam pelayanan transfusi darah dikeluarkan oleh pemerintah melali Peraturan Pemerintah No.18 th 1980

DASAWARSA V 1984 - 1994
Setelah beberapa kali pindah dari Jl.Abdul Muis ke beberapa lokasi, akhirnya kantor pusat PMI menetap di Jl.Jendral Gatot Subroto Kav.96 yang diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1985.

Tracing and Mailing RRC-RI
Selain pelayanan Tracing and Mailing Service (TMS) untuk pengungsi di Pulau Galang, pada tahun 1987 TMS PMI mengurus kunjungan keluarga dari RRC ke Indonesia yang pertama kalinya sejak hubungan diplomatik kedua negara itu tahun 1967 terputus.
Di Jakarta, PMI ikut membantu para korban musibah tabrakan kereta api Bintaro berupa pertolongan P3K, Transfusi Darah, TMS, serta pemberian pakaian pantas di sejumlah RS di Jakarta tempat korban dirawat.

Bencana alam
PMI mengerahkan 700 orang KSR/PMR dan 8 tenaga dokter untuk membantu korban banjir bandang di Semarang Jawa Tengah dan juga ikut membantu korban Letusan Gunung Kelud Jawa Timur tahun 1990 dengan bantuan pangan dan obat-obatan senilai Rp.8.583.400,-
Untuk turut menanggulangi bencana gempa bumi Tsunami di Flores 12 Desember 1992, PMI membentuk Satgas KSR Serbaguna yang disebut SATGAS MERPATI I.

Perang Teluk tahun 1991
Dengan pecahnya Perang Teluk, Pemerintah Indonesia mempercayakan kepada PMI untuk memimpin pengiriman bantuan masyarakat Indonesia dengan pesawat khusus ke Jordania, untuk korban Perang Teluk sebanyak dua kali. Bantuan sandang, pangan, obat-obatan dan peralatan listrik yang diberikan senilai 249 juta rupiah.

Uji Saring Darah HIV
Penyebaran virus HIV yang semakin meningkat mendorong terbitnya Keputusan Menteri Kesehatan RI No.622/1992 tentang kewajiban pemeriksaan virus HIV pada donor darah. Sejalan dengan itu, Depkes RI memberikan bantuan reagensia untuk pemeriksaan virus HIV kepada PMI yang diperuntukkan bagi segenap UTDC-PMI.

Temu Karya KSR
Pada bulan Juli 1992 diadakan Temu karya dan Lomba KSR Tingkat Nasional di Lombok NTB diikuti pula oleh peserta dari Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan Jepang.

DASAWARSA VI 1994 - 2004
Bencana Alam (Gempa Bumi)
Kembali pada tahun 1994 ,Pengurus Pusat membentuk Tim SATGAS MERPATI II untuk membantu korban bencana Gempa Bumi di Liwa-Lampung Barat dan Tsunami di Banyuwangi-Jawa Timur.
Juga pada tahun 1999, saat propinsi Bengkulu ditimpa gempa berkekuatan 7,9 skala richter, PMI dengan dukungan fasilitas Federasi Internasional dan Palang Merah Norwegia mendirikan rumah sakit lapangan berkapasitas 150 bed menggantikan fungsi rumah sakit setempat yang rusak di kota itu selama 10 bulan.
Gempa lainnya berskala 6,5 richter juga menimpa Banggai di Sulawesi Tengah pada bulan Mei 2002, dan beberapa bulan kemudian pada Juli 2000 gempa terjadi juga di 24 Kecamatan di Sukabumi dan Bogor.

Banjir
Akhir tahun 2000 banjir menimpa wilayah Aceh. Dengan bantuan ICRC di Lhoksumawe, Tim PMI ikut turun tangan membersihkan jalan-jalan dan fasilitas sosial lainnya dan memberikan bantuan 4000 paket bantuan alat kebersihan. Pada periode yang sama, banjir juga melanda Gorontalo Sulawesi Tengah yang mengakibatkan wilayah tersebut terutama di Kecamatan Ranoyapo terisolir banjir.
Banjir Lumpur dikuti longsor juga melanda wilayah Jawa Barat selama beberapa hari pada bulan Pebruari. Banjir bandang terjadi pula di NTB. 1000 paket bantuan PMI dan 610 petromaks disumbangkan oleh Federasi Internasional melalui PMI.
Awal Agustus 2001, banjir besar juga telah menghancurkan 8 Kecamatan di Kabupaten Nias Sumetera Utara. PMI telah mengirimkan obat-obatan dan bantuan paket keluarga berupa peralatan dapur, kelambu nyamuk, pakaian, selimut dan gula untuk memenuhi kebutuhan darurat sehari-hari di Nias.

Penanggulangan Bencana Konflik
Suatu konflik vertikal telah berlangsung di Aceh sejak Januari 2000, konflik horizontal di Poso Sulawesi Tengah pada 23 Mei 2000 dan kerusuhan hebat di Maluku Utara pada 17 Mei 2001. Di Aceh PMI bekerjasama dengan ICRC secara intensif melakukan kegiatan evakuasi korban luka dan mayat, membagikan bantuan pangan, pelayanan kesehatan darurat serta penyampaian berita keluarga. Sedangkan untuk Poso, PMI berkoordinasi dengan ICRC menyalurkan bantuan 4000 paket keluarga diikuti bantuan dari RCTI berupa tikar, sarung, handuk, jerigen, sabun mandi, sabun cuci dan pakaian yang diperuntukkan kepada 2000 orang. Sedang untuk konflik yang terjadi di Maluku Utara, kembali PMI bekerjasama dengan ICRC menyalurkan 5.655 paket bantuan keluarga kepada korban disamping pelayanan kesehatan di Tobelo dan Galela. Bantuan tambahan sebanyak 4500 paket dan 2000 unit peralatan sekolah dan seragam dari Kedutaan Besar Jepang. Di samping itu bantuan satu unit kendaraan juga telah dikirim ke Ternate dari Jakarta untuk membantu operasional teknis lapangan.

CBFA- Tarakan dan Lampung
Proyek pengembangan kesehatan berbasis masyarakat (CBFA) telah dimulai di Kalimantan Timur dan Tengah sejak Juni 2000. Bantuan disponsori oleh Palang Merah Belanda dengan Fasilitas Federasi Internasional bertujuan memperbaiki status kesehatan masyarakat di wilayah sasaran.

PMI KINI

Dalam rangka menghadapi perkembangan masyarakat Indonesia di masa depan yang semakin global dalam suasana yang semakin demokratis maka PMI harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebagai stakeholder untuk ikut mengambil peran aktif di dalamnya.

Karena itu, PMI telah menetapkan misi dan visi dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip kepalangmerahan dan digariskan di dalam garis-Garis Kebijakan PMI 2000 - 2004 :

A. Visi
PMI diakui secara luas sebagai organisasi kemanusiaan yang mampu menyediakan pelayanan kepalangmerahan yang efektif dan tepat waktu, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan, dalam semangat kenetralan dan kemandirian.

B. Misi

  1. Menyebarluaskan dan mengembangkan aplikasi prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan sabit Merah serta Hukum perikemanusiaan Internasional (HPI) dalam masyarakat Indonesia.
  2. Melaksanakan pelayanan kepalangmerahan yang bermutu dan tepat waktu, mencakup:
    + Bantuan kemanusiaan dalam keadaan darurat
    + Pelayanan sosial dan kesehatan masyarakat
    + Usaha Kesehatan Transfusi Darah
  3. Pembinaan Generasi Muda dalam kepalangmerahan, kesehatan dan kesejahteraan.
  4. Melakukan konsolidasi organisasi, pembinaan potensi dan peningkatan potensi sumber daya manusia dan sumber dana untuk menuju PMI yang efektif dan efiesien.

PROGRAM STRATEGIS PENGEMBANGAN ORGANISASI

A. TUJUAN
Menyempurnakan organisasi dan tata laksana PMI di semua tingkatan untuk persiapan peningkatan kemandirian dan kenetralan PMI dalam 5 tahun ke depan.

B. PROGRAM 2002

  1. Melanjutkan upaya akurasi data kapasitas organisasi daerah dan cabang dari hasil respon kuistioner yang diberikan Daerah dan Cabang dan Laporan Persemester atau Tahunan.
  2. Menyusun pola standar Orientasi Kepalangmerahan dan implementasi manajemen PMI bagi pengurus.
  3. Memberikan arahan kepada Daerah untuk mengaktifkan fungsinya melalui:
    • Pengamatan aktif, advokasi dan membantu implementasi AD/ART, khususnya di dalam MUSDA dan MUKERDA.
    • Lokakarya Manajemen dan Organisasi bagi daerah dan beberapa cabang terpilih.
    • Orientasi kepalangmerahan dan manajemen organisasi untuk daerah dan cabang-cabang yang dimiliki.
    • Membina Rencana Strategis Pengembangan Organisasi melalui kinerja tim OD
    • Lokakarya bagi pengembangan fungsi markas pusat bagi Kepala Unit Daerah (KAMADA)
    • Melanjutkan pemberian bantuan kepada korban gempa bumi di Bengkulu, dengan pilot program OD di PMI Bengkulu, untuk mendukung implementasi program CBFA, water and sanitation in Bengkulu.
  4. Memantapkan persiapan untuk MUKERNAS tahun 2002
  5. Menerbitkan perangkat lunak bagi pengembangan manajemen dan organisasi seperti Petunjuk Bagi Pengurus PMI.

PELATIHAN KESIAPSIAGAAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT (KBBM) DI KECAMATAN CAMPAKA

Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat (KBBM) yang diselenggarakan oleh PMI Cabang Cianjur pada tanggal 19 - 21 Maret yang dilaksanakan di Desa Cidadap Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, dalam hal ini diikuti oleh 40 orang peserta terdiri dari 11 Desa yang ada di wilayah kerja Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur.
Pelatihan ini di buka oleh Camat Campaka mewakili Bapak Bupati Cianjur, dalam sambutannya beliau sangat menyambut gembira wilayahnya dijadikan tuan rumah penyelenggaraan kegiatan pelatihan ini dikarenakan kecamatan Campaka merupakan daerah rawan bencana alam longsor terbukti pada tanggal 14 Nopember telah terjadi bencana alam longsor di Desa Girimukti kecamatan Campaka yang menelan korban sebanyak 13 orang dan menimbun rumah-rumah warga serta lahan pertanian.
Selama kegiatan pelatihan KBBM ini para peserta pelatihan sangat antusias terbukti banyak diantara para peserta yang mengemukakan pendapat dalam sesi tanya jawab selama penyampaian materi pelatihan.
Di akhir pelatihan diadakan simulasi bencana alam longsor di Kp. Cibeureum yang kebetulan di areal tersebut ada Danau buatan. dalam simulasi tersebut banyak warga masyarakat sekitar yang menjadi penonton.